Lymphoma Net - Home

Mendukung penderita Limfoma non Hodgkin

 
Mail a friend Print this page
 Home page >> Bagaimanakah pengobatan Limfoma non Hodgkin? >>Transplantasi
  Home page
  Apakah Limfoma non Hodgkin itu?
  Kunjungan ke klinik
  Bagaimanakah pengobatan Limfoma non Hodgkin?
 
Perawatan bagi pasien yang baru didiagnosis terkena LNH
Perawatan untuk penyakit kambuh
Kemoterapi
Terapi antibodi monoklonal
Terapi Radiasi
Tunggu dan lihat
Transplantasi
Pembedahan
Terapi Eksperimental
Penatalaksanaan gejala

  Hidup dengan Limfoma non Hodgkin



  Berita (dalam bahasa Inggris)
  Daftar kata-kata
  Webmasters
  Dewan Editorial
  Bantuan
  Kontak
  Sitemap
  Newsletter (dalam bahasa Inggris)
  Bahasa lain

 
 Transplantasi
< Sebelumnya   Selanjutnya >

    Keypoints


  • Transplantasi digunakan setelah kemoterapi dosis tinggi untuk membantu menggantikan si induk kekebalan dan sumsum tulang
  • Pasien dengan limfoma non Hodgkin agresif yang mengalami relaps sering ditawari menjalani transplantasi, sama seperti mereka yang tidak memberi respon terhadap kemoterapi
  • Transplantasi dapat berasal dari orang lain, atau, lebih sering lagi dari pasien sendiri, di mana sel-sel yang diperlukan untuk transplantasi dikumpulkan sebelum kemoterapi dosis tinggi

Pendahuluan

Transplantasi sel induk ditawarkan pada sebagian pasien dengan limfoma non Hodgkin. Sel induk adalah sel darah imatur yang terbentuk di sumsum tulang. Mereka akan berkembang menjadi sel darah matur sel darah merah, sel darah putih dan keping darah.

Transplantasi melibatkan pemakaian kemoterapi dosis tinggi (kadang dengan radioterapi) yang akan menghancurkan sumsum tulang. Sumsum tulang yang rusak kemudian harus diganti dengan sel-sel induk yang ditransplantasikan.

Transplantasi sel induk dapat berupa:

  • Alogenik (berbeda secara genetik), sel induk berasal dari orang lain donor. Donor dapat berupa keluarga, idealnya saudara kembar. Yang lain, dapat juga saudara laki-laki dan perempuan. Orang yang tidak ada hubungan keluarga, tetapi cocok, juga boleh mendonorkan sumsum
  • Otologus (dari tubuh pasien sendiri), sel induk berasal dari pasien sendiri, dikumpulkan sebelum kemoterapi dosis tinggi, kemudian akan ditransplantasikan kembali pada mereka
Transplantasi melibatkan pemakaian kemoterapi dosis tinggi (kadang dengan radioterapi) yang akan menghancurkan sumsum tulang, yang kemudian harus diganti dengan sel-sel induk yang ditransplantasikan. Klik gambar untuk melihat animasi yang menjelaskan trasnplantasi

Stem cell, bone marrow transplantation

Transplantasi sel induk pada limfoma non Hodgkin biasanya autologus, meskipun transplantasi alogenik juga sudah semakin sering dilakukan.

Ada dua jenis utama transplantasi, tergantung sumber sel induk:

Setelah kemoterapi dosis tinggi merusak sumsum tulang dan sebelum sumsum tulang pulih, risiko utama adalah infeksi. Masa riskan ini berlangsung beberapa minggu, dan selama itu pasien tinggal di rumah sakit. Antibiotik dan transfusi darah mungkin diberikan.

Transplantasi dapat diberikan pada pasien dengan limfoma non Hodgkin yang mengalami relaps menjadi bentuk agresif penyakit ini, terlepas apakah saat diagnosis tergolong indolen atau agresif.

Juga dapat digunakan pada pasien dengan limfoma non Hodgkin agresif yang tidak memberikan respon terhadap kemoterapi biasa, dan pada pasien limfoma non Hodgkin indolen untuk meningkatkan kemungkinan remisi. Transplantasi juga dilakukan pada beberapa jenis limfoma non Hodgkin yang lebih jarang dijumpai dan diketahui resisten terhadap kemoterapi.

Transplantasi sel darah tepi

Pada transplantasi sel darah tepi, yang merupakan bentuk transplantasi sel induk yang paling umum, sumber sel induk adalah darah sirkulasi, bukan sumsum tulang. Pasien dengan limfoma non Hodgkin dapat menerima transplantasi sel darah tepi autologus atau alogenik, tergantung apakah sel induk mereka sesuai untuk digunakan atau tidak, dan apakah donor yang sesuai dapat ditemukan.

Dalam kedua kasus, sel induk yang akan ditransplantasikan, apakah dari pasien sendiri atau dari donor, terlebih dulu didorong produksinya dalam jumlah besar di sumsum tulang dan masuk ke dalam darah. Ini dicapai dengan suntikan protein faktor pertumbuhan, seperti G-CSF, yang juga dibuat secara alami oleh tubuh. Faktor pertumbuhan diberikan setiap hari dalam bentuk suntikan kecil di bawah kulit selama 4 sampai 5 hari.

Untuk mengumpulkan sel induk untuk transplantasi, sebuah mesin pemisah sel mengeluarkan darah dari vena di lengan, mengambil sel-sel induk dan kemudian mengembalikan darah ke pasien. Ini memerlukan kunjungan ke rumah sakit selama beberapa jam dalam beberapa hari. Prosedur ini tidaklah sakit dan tidak diperlukan anestesi umum. Sel-sel kemudian disimpan sampai dibutuhkan.

Untuk menyingkirkan sel-sel kanker yang tersisa dalam tubuh, kemudian pasien menjalani kemoterapi, dosis tinggi , kadang-kadang dengan radioterapi, yang akan menghancurkan sumsum tulang (mieloablasi) dan melemahkan siinduk kekebalan tubuh (supresi imun ). Pengobatan makan waktu beberapa hari, dan dilakukan di rumah sakit.

Kemudian dilakukan transplantasi sel induk, dimana sel-sel induk, apakah dari pasien sendiri atau dari donor, disuntikkan ke tubuh pasien, hampir selalu lewat infus sentral.

Pasien kemudian tinggal di rumah sakit selama beberapa minggu sementara sumsum tulang memulihkan diri. Karena risiko infeksi yang tinggi pada masa ini, diberikan pencegahan khusus, termasuk pemberian antibiotik dan prosedur perawatan khusus. Transfusi darah dapat diberikan dari waktu ke waktu.

Saat sumsum tulang dan jumlah sel di dalam darah telah kembali ke normal, pasien dipulangkan dari rumah sakit dan diperiksa kemudian sebagai pasien rawat jalan.

Teknik ini memberikan hasil yang menjanjikan, terutama pada pasien dengan limfoma non Hodgkin indolen. Tidak seperti sumsum tulang, sel-sel induk dapat diambul tanpa memakai general anaesthetic.

Ada perbedaan penting antara transplantasi sel darah tepi autologus dan alogenik.

Transplantasi otologus

Pasien yang sel induknya sesuai untuk transplantasi sel darah tepi seringkali diberikan obat kemoterapi sebelum G-CSF. Ini mengurangi kemungkinan adanya sel limfoma di sumsum tulang dan untuk sementara waktu menekan produksi sel induk.

Saat sumsum tulang pulih dari kemoterapi, jumlah sel induk yang diproduksi oleh sumsum tulang meningkat dengan cepat, didorong oleh G-CSF.

Setelah sel induk diambil dari pasien, sel-sel tersebut akan dibekukan secara kriogenik (pada suhu yang sangat rendah). Pasien kemudian mendapat kemoterapi dosis tinggi diikuti re-infus dari sel-sel induk yang diambil sebelumnya.

Jika sel berasal dari pasien sendiri, kemungkinan reaksi imun antara siinduk kekebalan pasien dan sel-sel yang ditransplantasikan sangat berkurang. Meski demikian, risiko infeksi saat pemulihan sumsum tulang cukup tinggi, dan penting bahwa pasien berbicara dengan tim limfoma mengenai upaya mengurangi kemungkinan infeksi.

Transplantasi Alogenik

Karena saudara atau donor yang sesuai tidak menderita limfoma non Hodgkin, mereka tidak perlu menjalani kemoterapi sebelum sel-sel induknya diambil. Pengambilan ini juga dapat dilakukan kapan saja pasien siap, dengan demikian sel-sel induk diberikan dalam keadaan segar setelah dipindahkan dari donor ke pasien, mungkin masih dalam rumah sakit yang sama atau dari rumah sakit yang satu ke yang lainnya.

Meski tingkat keberhasilan transplantasi sel darah tepi alogenik secara potensial lebih tinggi daripada dengan transplantasi autologus karena donornya tidak menderita limfoma non Hodgkin, tetapi lebih banyak risiko yang dihadapi pasien yang mendapat jenis pengobatan ini.

Karena sel yang ditransplantasikan tidak sama persis dengan sel dari pasien sendiri, dapat terjadi reaksi imun. Sistem kekebalan pasien dapat menolak sel-sel yang diberikan dan menyerangnya seolah-olah sel-sel tersebut adalah bakteri infeksi. Lebih penting lagi, pasien dapat menderita penyakit cangkok versus inang, di mana sel-sel imun yang ditransplantasikan menyerang sel-sel pasien karena dianggap asing terhadap donor si induk imun. Jika tidak diobati, ini dapat menyebabkan diare, kemerahan kulit dan kerusakan hati serta dapat menjadi sangat parah atau bahkan mengancam nyawa.

Meski demikian, ada obat-obat yang dapat diberikan untuk mengurangi efek penyakit cangkok versus inang, dan dokter mungkin membersihkan sel induk yang diberikan dari suatu jenis sel T yang diduga menyebabkan reaksi ini, terutama jika donor tidak ada hubungan keluarga dan kesesuaiannya tidak begitu tepat.

�����

Tranplantasi sumsum tulang kadang menggunakan metode otologus (menggunakan sel pasien) tapi kadang alogenik (menggunakan sel dari donor yang cocok)
Autologous or allogeneic bone marrow transplantation

Transplantasi Sumsum Tulang

Transplantasi sumsum tulang adalah variasi dari transplantasi sel induk darah tepi. Pada transplantasi sel induk darah tepi, sel induk dimobilisasi dari sumsum tulang ke darah dimana mereka dapat diambil dengan mudah. Pada transplantasi sumsum tulang, sel-sel induk diambil dari sumsum tulang sendiri, yang membutuhkan anestesi umum untuk pasien ataupun donor.

Pasien dengan limfoma non Hodgkin dapat menjalani transplantasi sumsum tulang autologus ataupun alogenik, tergantung pada keadaan penyakit, fasilitas dan pengalaman klinik serta apakah sumsum tulang pasien sendiri sesuai untuk dipakai dan apakah donor yang sesuai dapat ditemukan. Sekarang, transplantasi sel induk darah tepi telah menggantikan sebagian besar transplantasi sumsum tulang.

Baik pada transplantasi sumsum tulang autologus maupun alogenik, sekitar seminggu atau dua minggu sebelum sumsum tulang diambil, pasien atau donor yang sesuai akan diambil 0,5 - 1 liter darah. Darah ini akan dikembalikan ke mereka saat sumsum tulang diambil.

Pada saat prosedur sebenarnya, sel-sel diambil dari sumsum tulang di tulang panggul, dengan anestesi umum , dan sumsum tulang disimpan hingga dibutuhkan. Biasanya memerlukan rawat inap satu malam di rumah sakit. Karena prosedurnya melelahkan, apakah untuk pasien sendiri atau donor yang sesuai, umumnya hanya dilakukan pada pasien berusia kurang dari 65 tahun dalam keadaan sehat.

Untuk membersihkan tubuh dari sel-sel kanker yang tersisa, pasien kemudian menjalani kemoterapi, dosis tinggi, kadang-kadang dengan radioterapi, yang merusak sumsum tulang (mieloablasi) dan menurunkan si induk kekebalan tubuh (supresi imun). Pengobatan memerlukan beberapa hari dan diberikan di rumah sakit.

Kemudian dilakukan transplantasi sumsum tulang, di mana sumsum tulang, apakah dari pasien sendiri atau dari donor akan disuntikkan ke pasien, hampir selalu lewat infus sentral.

Pasien tetap tinggal di rumah sakit selama beberapa minggu sementara sumsum tulang memulihkan diri. Karena risiko infeksi tinggi pada masa ini, langkah-langkah khusus perlu diambil, termasuk pemberian antibiotik dan prosedur perawatan khusus. Transfusi darah dapat diberikan dari waktu ke waktu.

Saat sumsum tulang dan jumlah sel dalam darah sudah kembali ke normal, pasien dipulangkan dari rumah sakit dan ditindak lanjuti sebagai pasien rawat jalan.

Ada perbedaan-perbedaan penting antara transplantasi sumsum tulang autologus dan alogenik, dan penting untuk membicarakan hal ini dengan tim limfoma sebelum memulai pengobatan.

Transplantasi autologus

Meskipun lebih lazim bagi pasien yang selnya sesuai untuk transplantasi sumsum tulang untuk menjalani transplantasi sel darah tepi, tim limfoma kadang-kadang akan menganjurkan transplantasi sumsum tulang autologus.

Setelah sumsum tulang diambil dari pasien, ia akan dibekukan secara kriogenik hingga sisa sumsum tulang pasien telah dihancurkan dan mereka siap menerima transplantasi.

Jika sumsum tulang didapat dari pasien sendiri, kemungkinan reaksi imun antara siinduk kekebalan pasien dengan sel yang ditransplantasikan sangat berkurang. Meski demikian, risiko infeksi saat sumsum tulang dalam proses pemulihan sangat tinggi, dan penting bagi pasien untuk berbicara dengan tim limfoma mengenai upaya mengurangi kemungkinan infeksi.

Transplantasi alogenik

Jika sumber sumsum tulang adalah saudara atau donor yang sesuai, pengambilan harus dilakukan tepat pada saat pasien telah siap, sehingga sel induk diberikan dalam keadaan segar setelah dibawa dari donor ke pasien, apakah dalam rumah sakit yang sama atau dari satu rumah sakit ke rumah sakit yang lain.

Meskipun angka keberhasilan transplantasi sumsum tulang alogenik secara potensial lebih tinggi daripada transplantasi autologus, karena donor tidak menderita limfoma non Hodgkin, tetapi lebih banyak risiko bagi pasien yang mendapat jenis pengobatan ini.

Karena sel yang ditransplantasikan tidak sama dengan sel dari pasien, dapat terjadi reaksi imun. Sistem imun pasien dapat menolak sel yang ditransplantasikan dan menyerangnya seolah mereka adalah bakteri infeksi. Lebih penting lagi, pasien dapat terkena penyakit cangkok versus inang , di mana sel-sel imun yang ditransplantasikan menyerang sel-sel pasien sendiri karena dianggap asing terhadap siinduk kekebalan donor. Jika tidak diobati, dapat menimbulkan diare, kemerahan kulit dan kerusakan hati serta dapat menjadi parah atau bahkan mengancam nyawa.

Meski demikian, ada obat-obat yang dapat diberikan untuk mengurangi efek penyakit cangkok versus inang, dan dokter mungkin membersihkan sel induk yang diberikan dari suatu jenis sel T yang diduga menyebabkan reaksi ini, terutama jika donor tidak ada hubungan keluarga dan kesesuaiannya tidak begitu tepat.

�����

 


< Sebelumnya Selanjutnya >