Lymphoma Net - Home

Mendukung penderita Limfoma non Hodgkin

 
Mail a friend Print this page
 Home page >> Bagaimanakah pengobatan Limfoma non Hodgkin? >>Perawatan untuk penyakit kambuh
  Home page
  Apakah Limfoma non Hodgkin itu?
  Kunjungan ke klinik
  Bagaimanakah pengobatan Limfoma non Hodgkin?
 
Perawatan bagi pasien yang baru didiagnosis terkena LNH
Perawatan untuk penyakit kambuh
Kemoterapi
Terapi antibodi monoklonal
Terapi Radiasi
Tunggu dan lihat
Transplantasi
Pembedahan
Terapi Eksperimental
Penatalaksanaan gejala

  Hidup dengan Limfoma non Hodgkin



  Berita (dalam bahasa Inggris)
  Daftar kata-kata
  Webmasters
  Dewan Editorial
  Bantuan
  Kontak
  Sitemap
  Newsletter (dalam bahasa Inggris)
  Bahasa lain

 
 Perawatan untuk penyakit yang kambuh
< Sebelumnya   Selanjutnya >

    Keypoints


  • Kebanyakan pasien dengan limfoma non-Hodgkin indolen yang mengalami relaps diberi kemoterapi, seringkali dalam kombinasi dengan terapi antibodi monoklonal
  • Jika pasien tidak dapat mentoleransi, atau tidak menginginkan, kemoterapi, antibodi monoklonal dapat dipakai tersendiri
  • Pasien dengan limfoma non-Hodgkin agresif seringkali diberi kemoterapi dosis tinggi dan cangkok sel

Limfoma non Hodgkin indolen

Kebanyakan pasien dengan limfoma non-Hodgkin indolen mengalami relaps, meski telah mendapat terapi. Waktu antara pengobatan dan relaps dapat bervariasi, tapi umumnya antara 1,5 dan 4 tahun.

Terapi terbaik untuk limfoma non-Hodgkin yang relaps tergantung banyak faktor. Pendekatan 'lihat dan tunggu' dapat direkomendasikan untuk beberapa pasien jika mereka tidak menunjukkan gejala yang mengganggu.

Akan tetapi, kebanyakan pasien mendapat kemoterapi, dengan obat tunggal atau dengan kombinasi obat. Suatu steroid, misalnya prednisolon, juga sering diberikan.

Antibodi monoklonal, contohnya, rituximab, digunakan untuk beberapa jenis limfoma dalam kelompok pasien ini. Ritumixab dapat diberikan sebagai obat tunggal (monoterapi) untuk penyakit yang relaps. Juga sering diberikan bersama kemoterapi, dan dapat meningkatkan efektivitas pengobatan, tanpa meningkatkan efek samping secara bermakna.

Saat limfoma non-Hodgkin indolen mengalami relaps, kadang-kadang terjadi ‘perubahan’ menjadi bentuk penyakit yang agresif. Seringkali, pengobatan pasien dengan limfoma non-Hodgkin yang mengalami transformasi menjadi sukar. Dapat dicoba menggunakan kemoterapi dosis tinggi dengan atau tanpa transplantasi sel induk darah tepi. Ini juga dapat dikombinasi dengan terapi antibodi monoklonal untuk mengeluarkan sel limfoma yang tersisa dari sumsum tulang.

Jika pengobatan dosis tinggi seperti itu tidak mungkin, maka pengelolaan medis ditujukan untuk mengendalikan gejala, atau disebut 'paliatif'.

Limfoma non Hodgkin agresif

Sekitar seperlima pasien dengan limfoma non-Hodgkin agresif tidak memberikan respon terhadap pengobatan, dan sekitar 3 dari 10 orang yang tidak memberikan respon mengalami relapssetelah suatu remisi. Meskipun pengobatannya sulit, kesembuhanatau remisi dapat dicapai hingga 50% pasien dengan pengobatan lini kedua. Pengobatan lini kedua ini terdiri atas kemoterapikombinasi dari ifosfamide, vincristine, dan etoposide (IVE), ifosfamide, carboplatin, etoposide (ICE), etoposide, cytarabine, cisplatin dan steroid metilprednisolon (ESHAP), atau diamminedichloroplatinum, cytarabine dan steroid deksametason (DHAP), kadang-kadang diikuti dengan kemoterapi dosis tinggi dan transplantasi sel induk darah tepi otologus (dari tubuh pasien sendiri).

Jika kesembuhan maupun remisi tidak mungkin, tujuan berikutnya adalah meringankan gejala. Beberapa pasien dapat mempertimbangkan untuk ambil bagian dalam uji klinik untuk membantu menguji pengobatan baru atau kombinasi pengobatan baru. Untuk informasi lebih lanjut, lihat uji klinik.

 


< Sebelumnya Selanjutnya >